Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Bertukar Rindu

Mataram sore ini begitu cerah menyinari semesta, bayangan kapal di dermaga terlihat begitu serupa. Sudah waktunya senja menepi ke semesta, setiap detik menjadi jarak untuk mendekati Mataram. Aku melihat senja hampir tiba. Sementara itu, manusia lain pergi mendekati senja, mencari titik temu untuk dapat berbagi senja. Mereka diburu waktu, karena takut ditinggal tanpa pamit. Selalu berharap tepat waktu, dengan harapan ada sebuah kiriman jingga dari kekasih hati yang berada di tepi sana. Hal ini sering terjadi di Mataram untuk menikmati warna dipenghujung hari.
Aku hanya bersemayam di sudut tenda sambil memegang handphone yang tak kunjung ada deringnya. Seseorang yang setiap hari lewat untuk menawarkan makanan pun tak kunjung lewat dihadapanku. Aku mulai gelisah antara memilih menahan bersentuhan dengan air atau menahan makanan masuk ke tubuhku. Hal-hal tidak penting mulai menghantui pikiran.
Hari cerah ini, tak ada temanku yang datang untuk berbincang. Aku berpikir dan mengingat-ngingat s…

CERPEN : Haris dalam Kabin

Jarum jam itu sudah mendarat di angka lima dalam luasnya kotak kabin. Ada yang baru tiba depan pintu kabin Haris, suara sepatu melangkah tipis menepi. Musik terus melaju dengan saluran kabel ke lubang telinga mengantarkan ke alam yang lain. Semesta mulai menguning. Sementara itu dalam beberapa saat sudah tidak nampak cahaya, sesekali cahaya kecil muncul dari kotak pintar seluler, lalu gelap kembali setelah ditekan.

Haris sedang berada di kabin gelap tengah kota, matanya hampir terpejam, tetapi tiba-tiba terdengar suara “tok..tok..tok”. Haris tetap menempelkan kepalanya di atas bantal. Diam tak bergerak sambil menghela nafas. Haris tetap menghiraukannya, tidak ingin menghampiri sumber suara. Dia harus tertidur, tak ingin di ganggu layaknya Armadillo yang hobi tidur 16 jam. Beberapa menit pun berlalu, yang berada di balik kabin pun terdiam dan melangkah pergi. Haris pun masih berusaha untuk dapat pergi dari dunia fana ini.

Sampai akhirnya dia pergi ke alam bawah sadar. Setelah tiga jam ber…

Untuk Semua Momen Terbaik.

'Din, free ga?'
'Mer, free ga?'
'Kuy!'
'Yuk!'
Pertanyaan yg selalu muncul beberapa saat, dalam lontaran chat line.

Setidaknya kita tau saat ini sedang pura-pura sibuk dalam pikiran yg bergelut dengan waktu. Bagaimana tidak? banyak tujuan-tujuan yg tersendat gara-gara sesuatu yg tak pantas untuk di perbincangkan tapi merupakan sebuah kewajiban yg santai, terarah dan menentukan. Ingin rasanya bisa melakukan segalanya secara bersama-sama dan menjadikan semua momen terbaik. Tapi apadaya dunia membuat kita lemah karena kenikmatannya yg hqq.

Untuk semua momen terbaik seperti yg tertulis di atas tembok kuning itu, rasa-rasanya spektrum adalah salah satunya. Spektrum yang membuat harimu menjadi jingga. Lewat spektrum kita sampai di Lombok dengan aman, damai dan senang. Lewat spektrum Dinda menemukan pengalaman hidup dan puing-puingnya untuk bertahan. Lewat spektrum, menemukan jodohkah?
Selamat malam jingga dalam kedamaian serta puluhan sunset dan bintang yg te…

Suara Hati

Kau Rasakan Sakitnya Orang Yang Tertindas Oleh Derap Sepatu Pembangunan.

Satu kalimat penuh makna dalam kamus setan politik mencekik.
Jadi saat kau sudah merasa sakit, bagaimana cara menggapai obatnya?
Dalam pembangunan ini, tak ada dokter yg nyata.
Semua hanya ilusi dunia, yg menghasilkan berbagai rasa.

Andai saja dunia pembangunan ini seperti penyakit pada umumnya.
Dalam dunia kedokteran yang rigid dan pasti, nyata akan diurus oleh dokter jaga.
Tak usah kuatir apalagi ketar-ketir.
Mungkin akan lebih hemat dalam pikiran.
Rasa sakit tak mungkin tak karuan.

Rasa sakit dalam sistem tubuh yg membuat tak sadar dalam ketertindasan ataupun kuasa. Ketidakwarasan dunia pembangunan, melantik semua gedung cakrawala.
Bagaimana nasib yang tertindas?
Apakah kau merasakannya?
Ah, ini seperti debat gubernur dki yg tumpang sana-sini di ibukota.

Kamus penuh wacana, Eris hatam betul.
Siapa yang tau di depan sana ada berbagai macam tantangan dalam diri dan pembangunan.

Orang yang selalu menjadikan iwan…

Rasaku

Akan tiba saatnya ketika sang angin lelah menapak bumi.

Semuanya tak terbendung oleh tingginya langit.

Bahkan luasnya samudra.

Hingga akhirnya anginpun kembali ke alam jiwa dan enggan tuk kembali.

Saat itu datang...

Saat hujan deras membawa perasaanku.

Mie Instan Juaranya

Jika kamu mie instan maka aku adalah telur mata sapi yang selalu menjadi pelengkap hari-harimu. Semenjak ada kamu, mie instan dengan berbagai varian dan aroma yang menggoda membuat aku tak ingin berpisah. Terimakasih karena kehadiranmu, duniaku menjadi sempurna.

Semua orang akan iri hati saat melihat kita bersama. Oleh karena itu, aku tak ingin berpisah denganmu. Aku tau kamu lebih berharga di bandingkan dengan diriku. Semua org tergila-gila kepadamu, sampai rela membawamu terbang ke ujung dunia. Bahkan rela membelimu dengan harga mahal sekalipun, dengan alasan melepas rindu kepada tanah air.

Ah, mie instan aku merasa bukan pasangan yang sepadan denganmu. Kau dipuji setinggi langit, dan aku hanya lahir dari anus hewan yang kotor. Apakah aku pantas menemani hari-harimu? Ini bukan cerita Cinderella kan. Aku sadar sekali ttg hal itu.

Orang-orang memilihmu di berbagai kondisi mereka, bahkan saat kantong dan perut kosong. Bantu aku untuk menjadi pelengkap hidupmu di setiap kondisimu dan wa…

Curhatan Anak SMA tingkat akhir

Adikku mengeluh dengan sistem yg ada.
Pusing katanya.
"Mau ujian aja harus nunggu keputusan menteri, presiden dan pejabat-pejabat bangsa"
Adikku kelas 3 SMA, yang menerima imbas sistem pendidikan yang selalu berganti dari dia awal masuk sekolah. 'Wajar aja, ganti menteri kan ganti kurikulum'. kataku. Walaupun sebenarnya memang tak wajar, namun di negaraku adalah hal yg biasa.
Sebagai warga negara pasti jadi hal lumrah, karena mengikuti keputusan menteri dalam hal pendidikan ataupun lainnya. Bisa tidak setuju,  bisa berbicara di medsos ataupun turun kejalan. Tetapi tersadar efek dr protes tak pernah nyata, karena ini bukan reformasi.

Sempat beredar kabar tidak ada ujian nasional tahun 2017 ini. Namun, ternyata pertengahan taun ini dia tetap ujian nasional, tapi sudah berganti lagi tekniknya. 'Teknik ujiannya di ganti lagi', katanya.
'Ujian nasionalnya pake komputer, kak'
'Nanti cuma milih satu mata pelajaran IPA dan mata pelajaran pokok'
'G…

Rindu Malang 2015

Saat malam tiba di kota ini, berjejer lampu kuning menghiasi jalan alun-alun kota.
Tak ku sangka akan sedingin ini Malang di malam hari. Maklum ini hari pertamaku di Malang dan baru merasakan udaranya.

Banyak manusia disini, berlalu-lalang, lalu diam sejenak hanya untuk menghabiskan malam dengan hal-hal yang tak ku pikirkan. Tak berbeda denganku, akupun begitu.

Malam terus berlalu sampai aku berjalan depan jembatan kota. Saat ku lihat kedepan, ada seseorang yang sibuk dengan becaknya. Sibuk mencari barang bekas di bawah jempatan penyebrangan. Tak kenal lelah, apalagi dingin, karena dia hanya menggunakan kaos robek yg tipis menemani mlmnya. Dia tidak menghabiskan malam dengan santai seperti aku ataupun yg lainnya.

Penuh perjuangan seharian ini, di tambah malam tak kunjung selesai untuknya. Padahal isi becaknya sudah banyak buntelan barang yang penuh menutupi ruang duduk. Sesak sekali becak itu, melebihi kapasitas biasanya.
Sebuah ruang memang harus seimbang. Ada yg sesibuk itu dikala o…

Istirahatlah Kata-Kata

Dan akhirnya kata pun dapat beristirahat.
Bukan berarti berhenti dalam sebuah perjuangan panjang,
karena akan bangkit kapanpun dia mau.
Film Istirahatlah kata-kata... Sebuah film yang memperkenalkan sosok lelaki jawa, seseorang yang berani dengan kata-kata yang penuh makna. Tapi... Seketika menjadi buron negara.
Dengan kata Ia tak pernah menyesal,  Walaupun untaian kata yg membuat dirinya di buru sana-sini
Wiji namanya, yang harus berganti nama ratusan kali demi pelariannya.
Sosok yang kurus,
berkulit coklat pekat,
tambah tak bisa teriak 'R' dengan jelas.
Adapun luka merah di mata,  akibat terkena senapan tentara. 
Yang sadar bahwa hidupnya hanya cukup ada, tanpa tahu dimana.
Yang sadar bahwa dia tak bisa tidur nyenyak, di atas ubin bahkan di atas kasur empuk. Bahkan ia tak dapat buang kotoran dengan tenang dan bebas, walau ia tanggapi semua dengan penuh tawa.
Perasaan was-was tetap menghantui waktunya, karena menjadi buron itu tak enak, katanya.
Wiji adalah buron Orde Baru, yang tak dapat bergerak be…

Bahagiaku.

Bahagia adalah...

Bahagia adalah bercerita dengan malam.
Walau sudah banyak kata yang terucap malam ini.
Masih banyak yg tak bisa ku ungkap dengan seuntai kata.
Bahkan beribu kata.
Indah dari atas, ruwet saat ku dibawah.
Mata ini egois, katanya
tak mau berbagi dengan kameraku yg sudah usang ini.

Walau indah tak dapat terungkap.
Bahagia hanya sebuah kata.
Ada yang bilang ada banyak kata, bahkan tidak cukup beribu-ribu kata di dunia ini untuk mengungkapkan kebahagiaan.
Bahagia membuat sesuatu yg berbeda dengan suasana yg syahdu, mengantar ceria.
Walau tercampur sendu, tertawa akan terungkap.

Karena saat berkata, tak dapat mengungkapkan mata dan hatimu.
Bahagia itu sederhana, katanya.
Bahagia dalam sepi
Bahagia dalam malam
Bahagia dalam cahaya
Bahagia dengan angin
Bahagia dengan gelap
Aku tak ingin pagi datang, walau banyak yg menanti.

Selamat malam kepada sang pengaggum cahaya dari setitik polusi cahaya bumi.

Hancur Rasa

Hari ini datang lagi pikirku.
Rasa tertancap lubang di tangan.
Entah kenapa,
rasanya sakit bukan main.
Seperti rasa dua tahun lalu.
Rasa diterkam ular kobra.
Sama persis.
Padahal ku sudah berkelana ke hutan Sumatera.
Penuh rintangan dan bahaya,
aman rasa kuhadapi.

Tapi kenapa hanya seperti ini, ku sakit rasanya.
Bukan main,
rasa muncul tiba-tiba.
Setelah semua terjadi, sekejab saja.
Hidup di kota memang lebih kejam.
Teman saja menjadi pisau keluarga.
Kota seram namanya, manusia menjadi hewan.
Kadang jinak, kadang buas.
Bahkan jinak tp menggigit.
Pantas saja, ada yg kabur darinya.
Kota Seram Namanya...

Hujanku malu-malu

Hari ini hujan malu-malu.
Hadir setelah ketegangan berlalu, terik derita panas melanda kota.
Hati pun tak kuasa rasanya.
Siapa sangka hujan turun juga.
Disaat semua org gundah gulana.
Hujan...
Hujan...
Hujan, katanya.
Akhirnya hujan turun juga, walau malu-malu datangnya.
Sebentar saja membuat basah.
Bau tanah pun melanda.
Petir sedetik pun kulihat juga.
Hati pun merasa merana.
Berbalik menjadi sendu, sendu dalam ketegangan emosi.
Hujan memang membawa luka, lukaku basah kembali.
Hujan memang selalu begitu.
Kadang datang tak terduga.
Mau apalagi, akhirnya hatiku basah juga.

Hujanku malu-malu Kamis, 12 Januari 2017.