Rindu Malang 2015

Saat malam tiba di kota ini, berjejer lampu kuning menghiasi jalan alun-alun kota.
Tak ku sangka akan sedingin ini Malang di malam hari. Maklum ini hari pertamaku di Malang dan baru merasakan udaranya.

Banyak manusia disini, berlalu-lalang, lalu diam sejenak hanya untuk menghabiskan malam dengan hal-hal yang tak ku pikirkan. Tak berbeda denganku, akupun begitu.

Malam terus berlalu sampai aku berjalan depan jembatan kota. Saat ku lihat kedepan, ada seseorang yang sibuk dengan becaknya. Sibuk mencari barang bekas di bawah jempatan penyebrangan. Tak kenal lelah, apalagi dingin, karena dia hanya menggunakan kaos robek yg tipis menemani mlmnya. Dia tidak menghabiskan malam dengan santai seperti aku ataupun yg lainnya.

Penuh perjuangan seharian ini, di tambah malam tak kunjung selesai untuknya. Padahal isi becaknya sudah banyak buntelan barang yang penuh menutupi ruang duduk. Sesak sekali becak itu, melebihi kapasitas biasanya.
Sebuah ruang memang harus seimbang. Ada yg sesibuk itu dikala org lain bersantai. Maupun sebaliknya.
Apakah ini keadilan dunia? Jangan terlalu jauh pergi ke dunia. Apakah ini adil di kota ini? Pagi dan Malam. Sedih dan Senang. Kaya dan Miskin. Saling berpasangan karena menuntut sebuah keseimbangan.

Ah sudahlah, mungkin suatu saat aku yg berada di posisinya. Karena hidup itu adil, menurutku. Walau baginya tidak. Mungkin sebaliknya.
Rindu Malang, 2015

Comments

Popular posts from this blog

Bayar Airbnb pakai Jenius

Jalan-Jalan ke Bangkok 2019 (Part 1 + Itinerary + Budget)

Jalan-Jalan ke Bangkok 2019 (Part 2: Museum Erawan, Wat Arun, Khao San, Platinum Mall dan Asiatique)