Langsung ke konten utama

Bertukar Rindu


Mataram sore ini begitu cerah menyinari semesta, bayangan kapal di dermaga terlihat begitu serupa. Sudah waktunya senja menepi ke semesta, setiap detik menjadi jarak untuk mendekati Mataram. Aku melihat senja hampir tiba. Sementara itu, manusia lain pergi mendekati senja, mencari titik temu untuk dapat berbagi senja. Mereka diburu waktu, karena takut ditinggal tanpa pamit. Selalu berharap tepat waktu, dengan harapan ada sebuah kiriman jingga dari kekasih hati yang berada di tepi sana. Hal ini sering terjadi di Mataram untuk menikmati warna dipenghujung hari.

Aku hanya bersemayam di sudut tenda sambil memegang handphone yang tak kunjung ada deringnya. Seseorang yang setiap hari lewat untuk menawarkan makanan pun tak kunjung lewat dihadapanku. Aku mulai gelisah antara memilih menahan bersentuhan dengan air atau menahan makanan masuk ke tubuhku. Hal-hal tidak penting mulai menghantui pikiran.

Hari cerah ini, tak ada temanku yang datang untuk berbincang. Aku berpikir dan mengingat-ngingat sepertinya hari ini, hari manusia berada di baraknya, tak banyak manusia hilir mudik depan mata. Setelah begitu lama aku merasa sesak kegerahan, aku bergeser ke kursi yang berada di dekat pohon mengarah ke arah senja akan menepi. Benar-benar ada angin menerawangi ranting dari balik pohon dengan jaring-jaring udara dan cahaya.

Saat aku mulai menghadap senja, tiba-tiba langit Mataram menjadi coklat dengan garis-garis halilintar. Awan pun ikut menghitam disekelilingku. Angin tiba-tiba melipir dari atas langit. Burung-burung berebut masuk ke rumahnya. Ribut sekali. Aku masih ditempatku semula. Melihat semua yang terjadi di depan mata begitu nyata.

“Ada karpet aladin”, kata orang di depan gerbang.

Saat detik kalimat itu terucap dan kudengar, aku menoleh ke arah gerbang. Ternyata tiba-tiba aku melihat karpet menghampiriku. Seharusnya dari arah sana senja muncul. Tetapi berubah sesaat karpet melayang mendekat, karpet yang lebarnya hanya satu kali dua meter. Berwarna merah dan bergaris emas menghampiriku semakin dekat. Setelah aku melihat lebih dekat, itu karpet aladin seperti yang ada di televisi.

“Dia tiba!”, aku berteriak dengan lugas.

 Tiba-tiba mendarat, tetapi tak menyentuh tanah, sejajar dengan badanku. Dia bilang datang kemari karena ingin meminta rinduku. Aku terheran karena mengapa tiba-tiba datang dan langsung meminta rinduku tanpa permisi.

“Berikan aku rindumu! Aku akan mengantarnya sampai ke Amsterdam”, ujar karpet aladin di depan kursi.

Aku hanya bisa menohok mendengar perkataannya. Segera aku mencari rinduku, karena aku cemas dan tak langsung percaya kepdanya. Aku berpikir bisa jadi ini pencurian berkedok, untuk menjual rindu kepada para pencari hati. Tiga menit berlalu, karpet itu masih diam dengan tenang menatapku tajam. Karpet itu masih menungguku, menunggu rinduku. Menunggu aku memberikannya. Aku terjebak dalam sebuah keputusan yang sulit.
Tetapi aku memang sudah kehabisan cara untuk dapat mengirimkan rinduku kepada kekasih hati. Rinduku tak berbalas, aku tak bisa bertukar rindu seperti hari-hari kemarin. Pikiranku mengalir untuk sebuah keputusan. Apakah ini adalah cara Tuhan menjawab rinduku yang tak terbalas sejak empat tahun lalu. Selama ini aku tak pernah menerima kabar darinya. Selalu aku yang mengirim aksara-aksaraku untuknya, tetapi aksaranya tak pernah muncul ke permukaan. Aku selalu berharap mendapatkan beberapa aksara di pesan singkat, berbalas kata, bahkan bertukar merpati putih dengan sepucuk surat. Semuanya hanya imajinasi yang belum menjadi nyata. Aku selama ini selalu menanti rinduku dibalas. Aku tahu rinduku tak pernah ingin kenal kepada jarak. Rinduku sangat benci jarak, karena membuatku sulit untuk bertukar rindu dengannya.

Saat memasuki menit ke empat, aku memutuskan sepertinya aku harus memberikan rinduku untuk pergi bersama karpet aladin. Walaupun sedikit tak percaya, aku harus segera memutuskan. Sebelum karpet itu pergi dan membawa rindu yang lain, nanti rinduku tak mendapatkan kursi karena terlalu sesak. Aku juga khawatir rinduku akan berceceran melewati ribuan mil untuk sampai kepadanya, karena kau harus tahu bahwa rinduku sudah meluber untuk dirinya.

Akhirnya di menit-menit selanjutnya aku bergegas mempersiapkan rinduku. Aku menyiapkan rinduku yang berbungkus hati. Rinduku yang menahan rasa, berdegup kata dan berharap temu dengan dirinya. Rinduku yang ku paket dengan lambang hati penuh dengan gejolak rasa.

Rinduku berjanji untuk sampai dengan selamat, dan membawa semua molekulnya tanpa ada yang tercecer dalam lintas perjalanan. Aku berharap jarak Mataram-Amsterdam tak jadi alasan rinduku menjadi minus karena berjatuhan di semesta atau bahkan hati yang lain. Aku juga berdoa semoga rinduku jangan sampai terkena paparan sinar kejenuhan.

“Apakah rindumu akan kau berikan?”, tanya karpet aladin kembali dalam menit ke lima.

“Tentu saja!”

“Tunggu sebentar rinduku sedang bergegas”, aku lebih cepat lagi membungkus rinduku dengan rapih.

Rinduku sangat bersemangat untuk mengukur jarak menjadi rindu sejati. Menikmati kebahagian dalam ingatan yang semu. Aku menyiapkan rinduku dengan berbekal sedikit pertanyaan untuk dirimu. Apakah kamu baik-baik saja? Banyak kabar tentangmu yang mendarat di telinga kanan dan kiriku. Aku dengar kau sudah banyak berubah. Berbeda, tak seperti dulu saat aku menemuimu. Saat kau belum bertemu banyak orang. Saat kau belum tahu apa itu dunia. Aku sungguh rindu kamu yg dahulu. Yang selalu memberi kabar di sela-sela kesibukanmu. Kamu yang sederhana, bersahaja dan malu-malu dengan semesta yang ada. Setiap senja menjadi bias jingga, memaksaku mengingat binaran matamu. Membuat hatiku mulai berketir menahan rindu. Semoga jarak ini bukan alasan kau tak pernah membalas rinduku. Semoga kau juga berharap sepertiku untuk bertemu kembali di hari nanti. Untuk tak saling menghianati. Semoga kau mengirimkan rindumu secepatnya, agar kita dapat selalu bertukar rindu.

“Rinduku sudah siap!”, melempar ke atas karpet merah yang bergaris emas itu.

Tanpa permisi lagi pada menit ke tujuh mereka segera pergi menjauh dari tempatku. Akhirnya rinduku melayang bersama karpet aladin. Aku merasa tak karuan karena hal ini membuatku seperti kehilangan. Tetapi saat menatap ke atas lagi mereka sudah menjadi kecil menjauh dan menghilang seperti percikan bintang di waktu senja. Aku masih bergumam semoga ini bukan pencurian rindu. Aku akan sangat murka bila ini adalah sebuah penipuan berkedok untuk para pencuri hati.

Setelah percikan bintang itu berkelip satu kali, tiba-tiba semua kembali lagi, seperti setiap hari cerah biasanya. Langit Mataram tiba di waktu berwarna jingga dengan sedikit kemerahan. Aku masih duduk di kursi bawah pohon menatap ke arah matahari tenggelam. Aku terus memutar pikiran. Tetapi aku tahu bahwa rinduku belum habis. Aku akan selalu menampung rindu hingga meluber kembali. Sampai hari itu tiba, aku akan terus sabar menunggu. Semua memori, tak akan habis dengan kiriman rinduku yang ada di atas karpet aladin itu. Aku akan setia menunggu bersama langit yang terus berganti seperti lembaran kenangan. Semoga karpet aladin datang kembali membawa rindumu.
Semoga rinduku bukan rindu yang tak terbalas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASIAN GAMES 2018 (bukan Asean Games)

Pembukaan Asian Games yang berlangsung pada 18 Agustus 2018 kemarin di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta ini menjadi salah satu perhatian dunia internasional. Acara pembukaan yang spektakuler tersebut mendapatkan banyak pujian dari berbagai kalangan. Hal-hal menakjubkan ditampilkan di acara yang baru saja digelar kemarin, dimulai dari aksi Presiden Republik Indonesi (RI) Joko Widodo yang datang menggunakan moge ke GBK, penampilan 4000 penari, tata panggung yang indah, pesta kembang api dan masih banyak lagi yang membuat kita terpana melihatnya.
Ada banyak banget pujian yang diberikan atas pertunjukkan spektakuler pembukaan Asian Games 2018 tersebut, namun ada juga kritikan yang menjadi perbincangan untuk obrolan politik saling menyerang. Dari berbagai ucapan selamat, terharu, bangga, kritikan yang mewarnai suasana pembukaan Asian Games 2018 di timeline media sosial. Ada satu hal yang bikin “gemas” karena perebutan satu huruf saja yaitu masih banyak yang salah nulis Asian Games me…

5 Alasan Harus Nonton Along With the Gods 2: The Last 49 Days!

Bagi yang sudah pernah menonton film Along With The Gods: The Two Worlds pada awal 2018 lalu di Indonesia, pasti penasaran dengan kelanjutan cerita yang berlatarkan kehidupan di alam baka ini. Sebuah film yang menceritakan mengenai seorang pemadam kebakaran Kim Ja Hong (Cha Tae Hyun) yang meninggal saat bertugas dan akhirnya menjadi salah satu jiwa mulia. Pemadam kebakaran ini ditemani oleh tiga malaikat pelindung, Gang Rim (Ha Jung Woo), Hae Won Mak (Ju Ji Hoo), dan Doek Choon (Kim Hyang Gi) untuk melewati berbagai pengadilan di alam baka.

Setelah sukses dengan film Along With The Gods: The Two Worlds yang sudah ditonton oleh 14 juta penonton tersebut. Film kedua besutan sutradara Kim Yong Hwa dilansir dari Soompi (14/8) sudah menembus angka 10,002,058 juta penonton di Korea dalam waktu 2 minggu. 

Tepatnya pada bulan ke delapan ini film Along With the Gods 2: The Last 49 Days atau Along With The Gods part II sudah mulai tayang di Korea Selatan sejak tanggal 1 Agustus 2018. Sementara i…

Isu SARA, Siap-Siap Media Sosial Akan Gaduh!

Pertarungan politik antara Jokowi dan Prabowo pada tahun 2014 lalu, akhirnya akan terulang kembali pada Pilpres tahun 2019 nanti. Hal ini dibuktikan saat keduanya resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon presiden. 

Tahun ini Joko Widodo dan Prabowo Subianto memberikan kejutan dalam menentukan sebuah keputusan politiknya. Seperti yang kita ketahui, akhirnya Jokowi resmi memilih Ma’Ruf Amin dan Prabowo resmi memilih Sandiaga Uno. Hal tersebut membuat pemberitaan di media ramai dan banyak pro-kontra atas keputusan tersebut.
Sebelum diputuskannya calon wakil presiden masing-masing, pada umumnya sosok yang digadang-gadang di mediaadalah sosok yang berbeda dengan hasil keputusan akhir. Nama yang muncul di pemberitaan media adalah Mahfud Md dan AHY, namun akhirnya nama-nama tersbut hanya muncul di permukaan saja.
“Pada Akhirnya Yang Digadang-Gadang, Akan Kalah Dengan Kepentingan Partai Politik”.
Kepentingan partai politik akhirnya menjadi penentu keputusan politik akhir dari Jokowi dan Prabow…